Tuhan itu baik

Tuhan itu baik. Ia selamanya baik terhadap makhluk ciptaan-Nya.
Tuhan itu baik. Dia memberi kehidupan kepada mereka yang akan menyembah-Nya dan kepada mereka yang akan menista-Nya
Tuhan itu baik. Dia menyokong kehidupan mereka yang memuja-Nya dan mereka yang menghina-Nya.
Tuhan itu baik. Dia selamanya sabar terhadap kemurtadan manusia.
Tuhan itu baik. Ia acap kali menahan diri dari melakukan tindakan pemusnahan terhadap mereka yang menghujat-Nya.
Tuhan itu baik. Dia menerima dengan sukacita sekecil atau sebesar apapun pemberian yang diberikan kepada-Nya dengan rasa syukur.
Tuhan itu baik. Dia mudah ditemui oleh orang-orang yang bersungguh hati kepada-Nya.
Tuhan itu baik. Dia mendengar setiap doa.
Tuhan itu baik. Dia mengampuni segala dosa.
Tuhan itu baik. Dia memenuhi kebutuhan manusia.
Tuhan itu baik. Dia tidak membenci mereka yang menolak dan menghina-Nya karena mereka tidak memperoleh yang mereka inginkan.
Tuhan itu baik. Dia perhatian terhadap semua makhluk ciptaan-Nya bahkan kepada burung-burung kecil sekalipun.
Tuhan itu baik. Ia memukul mereka yang dicintai-Nya yang berbuat kesalahan karena Ia ingin menyelamatkan mereka dari kebinasaan.
Tuhan itu baik. Ia turut menangis pada setiap pukulan yang diberikan-Nya kepada mereka yang dicintai-Nya.
Tuhan itu baik. Ia menerima semua pertobatan dan bersedia bekerja untuk memperbaiki kerusakan yang telah terjadi.
Tuhan itu baik. Ia ingin kamu mengetahui bahwa Ia baik karena Ia ingin kamu sadar bahwa Ia ingin bersahabat denganmu

“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab I baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya”

LT Yohanes 1 : 35 – 42

Kalau saya perhatikan, perikop ini bercerita tentang kedua murid Yohanes yang mengikuti Tuhan Yesus. Mereka rupanya membututi Tuhan Yesus. Mengetahui hal itu, Tuhan Yesus mengambil insiatiaf pertama untuk menyapa mereka. “Apakah yang kamu cari?” adalah pertanyaan yang diajukan Tuhan Yesus. Ada banyak kemungkinan jawaban yang bisa diberikan untuk pertanyaan Tuhan Yesus itu. Namun, mengapa murid-murid itu malah menanyakan “dimana Engkau tinggal?”? Mengapa mereka tidak mengaggap itu sebagai kesempatan untuk menyakan apakah mereka boleh menjadi murid Tuhan Yesus atau tidak. Saya hanya bisa menduga-duga tentang mengapa mereka menanyakan pertanyaan seperti itu ke Tuhan Yesus. Mungkin mereka ragu-ragu atau mungkin mereka gugup sehingga tidak percaya diri. Tetapi satu hal yang pasti; jawaban Tuhan Yesus atas pertanyaan tempat tinggal-Nya bukanlah “alamat” Dia tinggal. “Mari ikut Aku” adalah jawaban dari Sang Juruselamat. Dengan jawaban seperti itu, terbukalah kesempatan untuk mengadakan suatu hubungan jangka panjang.

Sampai saat itu, kemungkinan besar tidak ada seorang pun yang tahu dimana Tuhan Yesus tinggal. Ia tidak punya rumah tetap, Ia juga belum terlalu dikenal sehingga kebiasaanNya bermalam di taman juga belum diketahui. Demikian juga dengan saya, saya tidak tahu dimana sorga itu. Tidak seorang manusia pun tahu dimana sorga itu. Hanya Tuhan Yesus yang tahu. Namun jika saya bertanya kepada-Nya : “dimana sorga itu Tuhan”? Maka saya yakin, Ia tidak akan memberikan jawaban berupa sebuah koordinat. Ia akan beri lebih daripada itu. Ia juga tidak akan hanya memberi tahu cara ke situ. Ia akan berikan lebih daripada itu. Karena yang akan diberikan-Nya adalah diri-Nya; diri-Nya yang akan menuntun, langkah demi langkah, setiap orang yang mau pergi ke sorga.

LT Yohanes 1 : 29 – 34

Pada pelajaran yang lalu, saya diingatkan bahwa Yohanes adalah seseorang yang diutus oleh Allah untuk menyatakan, mempersipakan jalan, bagi Tuhan Yesus. Oleh karena tugasnya itu, pekabarannya penting bukan hanya bagi orang Israel dulu tapi juga bagi saya. Kesaksian Yohanes tentang Yesus adalah bahwa Yesus adalah “Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”. Cukup menarik bahwa ditengah-tengah harapan kedatangan mesias sebagai penyelamat dari perhambaan Romawi, Yohanes malah memberi kesaksian bahwa Tuhan Yesus adalah anak domba. Yohanes tidak memberi kesaksian bahwa Tuhan Yesus adalah raja segala raja, penakluk atau gambaran-gambaran lain yang menggambarkan keperkasaan (seperti yang diidam-idamkan oleh bangsa Israel). Diilhami oleh Roh Allah, ia memberi gambaran bahwa Yesus adalah anak domba, suatu hewan yang identik sebagai hewan yang dikorbankan untuk pengampunan dosa. Demikianlah Allah menurut saya, dalam cara-Nya berusaha untuk menyadarkan umat Israel tentang harapan-harapan mereka yang salah tentang mesias. Namun demikian, hal ini tampaknya tidak diperhatikan oleh bangsa Israel.

Berbeda dengan orang Israel yang tuli terhadap suara Tuhan, Yohanes peka terhadap suara Tuhannya. Ia sanggup membedakan Sang Mesias diantara ribuan orang Israel pada waktu itu. Tuhan Yesus belum memulai pengajaran maupun mujizat-mujizat-Nya namun Yohanes sudah tahu bahwa Tuhan Yesus adalah Sang Mesias. Ini tentu saja bukan karena kesanggupannya sendiri namun karena ia memiliki hubungan yang hidup dengan Allah yang hidup. Inilah yang menyanggupkan Yohanes mengenal suara Allah. Inilah yang membuat Ia mendapat pernyataan Allah tentang tanda yang akan diberikan kepadanya untuk mengetahui Sang Mesias. Hubungan yang hidup dengan Allah yang hidup adalah kunci keberhasilan Yohanes mengenali Sang Mesias. Hal yang sama juga terjadi pada Simeon dan Hana. Seperti yang dikisahkan Lukas 2, mereka sanggup mengenali Sang Mesias bahkan ketika Sang Mesias itu masih dalam keadaan sebagai bayi yang lemah.  Kuncinya tetap sama, keduanya memiliki hubungan yang hidup dengan Allah yang hidup.

Satu aplikasi bagi saya adalah bahwa hubungan yang hidup dengan Allah yang hidup adalah cara untuk mengenal Tuhan Yesus. Saya tidak akan mengenal Tuhan Yesus tanpa itu. Tidak, sekalipun Ia menyatakan mujizat-mujizat besar. Hanya hubungan yang hidup dengan Allah yang hidup  yang memungkinkan saya mengetahui siapa Tuhan Yesus itu. Lagi pula, bukankah ada tertulis:

“Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah..” Hosea 4 : 6

Jadi, jika pengenalan akan Allah itu begitu penting untuk kelangsungan hidup saya, betapa saya harus tetap menjaga hubungan yang hidup dengan Allah yang hidup.

LT Yohanes 1 : 19 – 28

Perikop Yohanes 1 : 19 – 28 menurut saya adalah suatu periokop yang menarik. Sesuai dengan judulnya, periokop ini berkisah tentang kesaksian Yohanes tentang dirinya sendiri. Pertanyaan orang Farisi: “Siapakah engkau?” adalah pembuka dari kisah ini. Uniknya adalah gantinya memberi jawab tentang “siapa dirinya sesungguhnya”, Yohanes malah memberi jawab tentang “’sesungguhnya dirinya bukan siapa”‘. Gantinya langsung memberi jawab bahwa Ia adalah suara orang yang berseru di padang gurun, Yohanes malah memberi jawab terlebih dahulu bahwa ia bukanlah Mesias. Mengapa ia bersikap seperti itu? Satu jawaban saya peroleh adalah bahwa kemungkinan besar ini berkaitan tentang besarnya harapan umat Israel akan kedatangan mesias. Aktifitas Yohanes mengajar dan membaptis ditambah dengan keajaiban-keajaiban yang terjadi pada waktu kelahirannya tentu semakin membangkitkan harapan umat Israel bahwa janji kedatangan mesias dipenuhi dalam diri Yohanes. Yohanes tentu menyadari hal itu apalagi saat itu nama Tuhan Yesus belumlah dikenal oleh orang. Namun demikian, kesaksian awal Yohanes tentang dirinya adalah: “Aku bukan Mesias!”. Suatu kesaksian dalam kalimat yang singkat, padat, jelas dan tidak mengandung ambiguitas agar dapat diputar-putar di kemudian hari menjadi kalimat bahwa dialah mesias. Yohanes mengetahui harapan lingkungannya terhadapnya. Pengakuan sebagai Mesias kepada orang-orang yang menduga bahwa dialah mesias bisa mendatangkan keutungan duniawi yang besar baginya. Tetapi Yohanes tidak terpengaruh oleh itu. Ia mengetahui harapan orang-orang sebangsanya terhadapnya namun ia juga mengetahui akan tugasnya di hadapan Allah. Diantara kedua hal tersebut Ia memilih menjalankan tugasnya di hadapan Allah. Ia tidak bersikap acuh tak acuh terhadap harapan bangsanya terhadapnya justru kepeduliannya terhadap hal itu dinyatakan dengan pernyataannya yang jelas tentang dirinya bahwa ia bukanlah mesias.

Efesus 2 : 10 mengatakan,
Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Hal ini menandakan bahwa Tuhan memiliki panggilan untuk setiap umat manusia. Saat ini, Yohanes 1 : 19 – 28 mengingatkan saya kembali bahwa saya harus memenuhi panggilan Tuhan gantinya berushaha untuk memenuhi harapan-harapan yang ada di lingkungkan saya untuk menjadi seperti apa saya. Bahkan, gantinya berusaha untuk memenuhi harapan-harapan saya pribadi, saya harus memenuhi harapan Tuhan terhadap saya.

Pertanyaan sederhana yang muncul kemudian adalah: “bagaimana saya mengetahui jalan yang Tuhan rancang bagi saya?”. Kisah hidup Yohanes dan Tuhan Yesus memberi jawabnya: “hubungan yang terus menerus dengan Allah”.

LT I Yohanes 1 : 1 – 18

Banyak makna yang dapat diambil dari Yohanes 1 : 1 – 18. Pada waktu saya megadakan Loving Time(LT) ini, pikiran saya sangat terfokus pada kata “Firman” dan “Pada mulanya”. Penggunaan kata “Pada mulanya” di awal kitab mengingatkan saya pada satu kitab besar yang lain: Kejadian. Hanya kitab Kejadian dan kitab Yohanes yang seingat saya dimulai dengan “Pada mulanya”. Mulanya saya pikir hanya pada frase itu saja terdapat kesamaan, tetapi setelah saya pikir lagi, ternyata ada banyak persamaan yang lain. Persamaan yang lain adalah menonjolnya penggunaan kata “Firman” di kedua kitab itu.

Kitab Kejadian seolah-olah menceritakan atau membuktikan kebenaran Yohanes 1 : 3,

“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”

Kebenaran itu terasa begitu indah ketika saya mencoba untuk mengganti kata “Dia” dengan “Firman”, sehingga Yohanes 1 : 3 akan berbunyi berbunyi:

“Segala sesuatu dijadikan oleh Firman dan tanpa Firman tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”

Betul-betul sesatu yang menggugah. Rupanya Allah tidak sembarangan ketika Ia memilih menjadikan bumi dengan FirmanNya. Itu semua rupanya sesuai dengan prinsip-prinsip kekal. Allah bisa saja menciptakan dunia dan segala isinya hanya dengan hembusan nafas atau hanya dengan kedipan mata atau hanya dengan jentikan jari, dll, tetapi Ia tidak menggunakan itu. Ia berfirman maka semuanya ada. Ini semuanya menyadarkan saya tentang betapa pentingnya Firman Allah itu. Dalam bentuk Alkitab mungkin itu sering dianggap sepele oleh manusia sehingga jarang dipelajari atau dikrtik oleh orang-orang yang merasa diri pintar, padahal dibalik kesederhanaannya dan mungkin “ketidakmenarikannya”, firman itulah yang telah menciptakan dan menyokong peredaran alam semesta ini. Betapa saya harus menghargai firman Allah. Betapa saya harus menghargai Alkitab. Hidup manusia, hidup saya bergantung padanya.

Dengan membandingkan Kejadian dan Yohanes ada satu pelajaran indah lagi yang saya dapatkan. Saya melihat kitab Kejadian adalah kisah tentang pelanggaran Firman Allah (melalui Adam dan Hawa) yang menutun ke kejatuhan dan kehinaan namun sebaliknya, kitab Yohanes adalah kisah tentang bagaimana penurutan Firman Allah (melalui Tuhan Yesus) menutun ke kemuliaan dan pemulihan.

Satu aplikasi penting bagi saya: “”Hargai Firman Allah yang saat ini ada dihadapan saya dalam bentuk Alkitab. Pelajari, terima serta hidupkan itu karena itulah kekuatan Allah, itulah hidup manusia, itulah hidup saya.”

OASIS PADANG GURUN

OASIS PADANG GURUN

sumber: www.joyfultoons.com

Jangan Buka Pintu Itu

Jangan Buka Pintu Itu

Sumber gambar: www.joyfultoons.com