LT Yohanes 1 : 29 – 34

Pada pelajaran yang lalu, saya diingatkan bahwa Yohanes adalah seseorang yang diutus oleh Allah untuk menyatakan, mempersipakan jalan, bagi Tuhan Yesus. Oleh karena tugasnya itu, pekabarannya penting bukan hanya bagi orang Israel dulu tapi juga bagi saya. Kesaksian Yohanes tentang Yesus adalah bahwa Yesus adalah “Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”. Cukup menarik bahwa ditengah-tengah harapan kedatangan mesias sebagai penyelamat dari perhambaan Romawi, Yohanes malah memberi kesaksian bahwa Tuhan Yesus adalah anak domba. Yohanes tidak memberi kesaksian bahwa Tuhan Yesus adalah raja segala raja, penakluk atau gambaran-gambaran lain yang menggambarkan keperkasaan (seperti yang diidam-idamkan oleh bangsa Israel). Diilhami oleh Roh Allah, ia memberi gambaran bahwa Yesus adalah anak domba, suatu hewan yang identik sebagai hewan yang dikorbankan untuk pengampunan dosa. Demikianlah Allah menurut saya, dalam cara-Nya berusaha untuk menyadarkan umat Israel tentang harapan-harapan mereka yang salah tentang mesias. Namun demikian, hal ini tampaknya tidak diperhatikan oleh bangsa Israel.

Berbeda dengan orang Israel yang tuli terhadap suara Tuhan, Yohanes peka terhadap suara Tuhannya. Ia sanggup membedakan Sang Mesias diantara ribuan orang Israel pada waktu itu. Tuhan Yesus belum memulai pengajaran maupun mujizat-mujizat-Nya namun Yohanes sudah tahu bahwa Tuhan Yesus adalah Sang Mesias. Ini tentu saja bukan karena kesanggupannya sendiri namun karena ia memiliki hubungan yang hidup dengan Allah yang hidup. Inilah yang menyanggupkan Yohanes mengenal suara Allah. Inilah yang membuat Ia mendapat pernyataan Allah tentang tanda yang akan diberikan kepadanya untuk mengetahui Sang Mesias. Hubungan yang hidup dengan Allah yang hidup adalah kunci keberhasilan Yohanes mengenali Sang Mesias. Hal yang sama juga terjadi pada Simeon dan Hana. Seperti yang dikisahkan Lukas 2, mereka sanggup mengenali Sang Mesias bahkan ketika Sang Mesias itu masih dalam keadaan sebagai bayi yang lemah.  Kuncinya tetap sama, keduanya memiliki hubungan yang hidup dengan Allah yang hidup.

Satu aplikasi bagi saya adalah bahwa hubungan yang hidup dengan Allah yang hidup adalah cara untuk mengenal Tuhan Yesus. Saya tidak akan mengenal Tuhan Yesus tanpa itu. Tidak, sekalipun Ia menyatakan mujizat-mujizat besar. Hanya hubungan yang hidup dengan Allah yang hidup  yang memungkinkan saya mengetahui siapa Tuhan Yesus itu. Lagi pula, bukankah ada tertulis:

“Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah..” Hosea 4 : 6

Jadi, jika pengenalan akan Allah itu begitu penting untuk kelangsungan hidup saya, betapa saya harus tetap menjaga hubungan yang hidup dengan Allah yang hidup.

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: