Tuhan Yesus mengumpamakan firman itu sebagai benih. Benih itu memiliki kuasa untuk bertumbuh dan berbuah dari dalam dirinya sendiri. Namun demikian, tempat di mana benih itu ditabur memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana pertumbuhan dari benih itu. Kita tidak memiliki kuasa dalam membuat benih itu mengeluarkan akar. Kita juga tidak memiliki kuasa untuk membuat benih itu bertumbuh. Namun demikian, kita dapat menaruh benih dalam kondisi dimana ia akan berakar. Kita dapat menanam benih itu dalam kondisi dimana ia akan bertumbuh. Kondisi-kondisi itu bukan kita yang tentukan. Bukan kita yang tentukan bahwa enceng gondok harus ditaruh di air sedangkan kaktus di gurun. Kondisi-kondisi itu memang sudah ditentukan di luar partisipasi kita. Jika kita ingin benih bertumbuh maka yang kita lakukan adalah mempelajari kondisi apa yang dapat membuat benih itu bertumbuh kemudian manaruhnya dalam kondisi itu. Jika itu yang terjadi, dengan sendrinya benih itu akan bertumbuh dan berakar. Demikian juga dengan Firman Allah. Firman Allah itu memiliki kuasa untuk bertumbuh dari dalam dirinya sendiri, sama seperti benih itu. Diri kita adalah tempat dimana Firman Allah itu ditabur. Seperti benih itu, kita tidak dapat membuat Firman Allah itu berakar atau bertumbuh. Yang dapat kita lakukan adalah menaruh Firman Allah itu dalam kondisi dimana ia akan berakar dan bertumbuh. Oleh memiliki sifat cinta uaang, kita tidak manaruh Firman Allah itu dalam kondisi dimana ia akan berbuah. Oleh teralalu khawatir dengan perkara-perkara dunia, kita tidak manaruh Firman Allah itu dalam kondisi dimana Ia akan bertumbuh. Sebaliknya, oleh mencintai Firman itu dengan segenap hati, oleh kegemaran untuk merenung-renugkan Firman itu, oleh mempercai Firman itu dengan tulus dan oleh kerelaan menuruti apa yang Firman itu ajarkan kepada kita, kita membuatnya berada di kondisi-kondisi dimana ia akan bertumbuh dengan subur. Hati manusia adalah tanah tempat Firman Allah ditabur. Tidak ada tanah yang terlalu jelek sehingga tidak ada harapan untuk pertumbuhan Firman Allah. Kita mungkin berpikir: “Yang ngga lah, ada dong tanah yang subur dan yang tidak. Tanah yang baik dan tanah yang tidak baik.” Jika kita memiliki pikiran seperti itu, maka sebaiknya kita melihat kondisi pertanian Indonesia dan Jepang. Fakta bahwa Jepang yang tandus sanggup menghasilkan buah-buah yang lebih baik daripada Indonesia yang subur, mengajarkan kepada kita: “ini semua bukan masalah tanahnya tetapi masalah orang yang menggarap tanahnya”. Sungguh yang menjadi masalah bukanlah seberapa rusak atau baik keadaan kita sekarang tetapi seberapa giat kita untuk terus menggarap diri kita agar menjadi tempat dimana Firman Allah itu akan bertumbuh dengan subur.
Satu Komentar
sebaiknya dijelaskan apakah kita beriman atau berbuah? dalam pertumbuhan ada 3 hal yg harus diperhatikan :1. penabur. 2. Benih. dan 3. Tanah.
Sebaiknya orang kristen ya beriman dan berbuah. Dan dijelaskan 4 hal yaitu : 1. Datah yg keras. 2. Tanah Bebatuan. 3. Tanah yg berisi rerumputan dan 4. Tanah yang subur.